Pembelajaran Bahasa Jerman Makin Interaktif: Dosen Terapkan Problem Based Learning untuk Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa
Inovasi pembelajaran kembali dilakukan dalam perkuliahan Bahasa Jerman di lingkungan perguruan tinggi. Para dosen menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai strategi untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan komunikasi mahasiswa dalam penggunaan bahasa asing. Model PBL, yang menempatkan mahasiswa sebagai pusat proses pembelajaran, mengajak mahasiswa belajar melalui permasalahan nyata terkait konteks budaya, sosial, dan situasi komunikasi dalam bahasa Jerman. Melalui pendekatan ini, mahasiswa tidak hanya memahami struktur bahasa, tetapi juga mampu memecahkan persoalan dengan mengaplikasikan bahasa Jerman secara langsung.
Dalam praktiknya, mahasiswa dibagi ke dalam kelompok kecil dan diberikan kasus autentik, seperti “Wie kann man umweltfreundliche Projekte an der Universität planen?” atau “Wie kann man interkulturelle Konflikte im Austauschprogramm lösen?”. Mereka diminta menganalisis masalah, mencari informasi pendukung, berdiskusi, lalu menyusun solusi dalam bentuk presentasi maupun produk bahasa seperti teks argumentatif, dialog, atau video.
Salah satu dosen pengampu menjelaskan bahwa penerapan PBL membuat mahasiswa lebih aktif dan terarah. “Mahasiswa lebih berani berpendapat, lebih sering menggunakan bahasa Jerman secara spontan, dan mereka belajar bekerja sama. Ini sangat mendukung pencapaian kompetensi komunikatif,” ujarnya. Mahasiswa turut merasakan manfaat pendekatan ini. Mereka mengaku lebih termotivasi karena materi tidak hanya disampaikan secara teoretis, tetapi juga dikaitkan dengan situasi yang relevan dengan kehidupan nyata. “Belajarnya jadi lebih seru, kami seperti memecahkan masalah nyata dengan bahasa Jerman. Tidak terasa sedang belajar tata bahasa, tetapi akhirnya paham dengan sendirinya,” ungkap salah satu mahasiswa.
Melalui penerapan Problem Based Learning, pembelajaran bahasa asing diharapkan tidak hanya menghasilkan mahasiswa yang cakap secara linguistik, tetapi juga memiliki kemampuan kolaborasi, kreativitas, dan pemecahan masalah, kompetensi penting di era globalisasi. Dengan inovasi ini, prodi Bahasa Jerman kembali memperkuat komitmennya dalam menciptakan pembelajaran yang aktif, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan abad ke-21.