Jimin BTS Memperkenalkan Sastra Jerman: Refleksi Puisi "Ich lebe mein Leben in wachsenden Ringen"

Jimin, anggota BTS, pada tahun 2023 merilis lagu solo bertajuk "Set Me Free Pt. 2" yang menjadi bagian dari album solonya FACE. Lagu ini mendapat sambutan hangat dari para penggemar K-pop di seluruh dunia, tidak hanya karena musikalitas dan performa koreografinya yang luar biasa, tetapi juga karena pesan emosional mendalam yang disampaikan melalui lirik dan video musiknya. Salah satu aspek menarik dari video musik ini adalah penggunaan kutipan dari puisi Jerman terkenal karya Rainer Maria Rilke, "Ich lebe mein Leben in wachsenden Ringen." Elemen ini memperkaya pengalaman visual sekaligus menambah lapisan interpretasi bagi karya Jimin.
Puisi "Ich lebe mein Leben in wachsenden Ringen" ditulis oleh Rainer Maria Rilke, seorang penyair Jerman ternama yang terkenal dengan karya-karya yang penuh refleksi filosofis dan eksistensial. Rilke lahir pada tahun 1875 dan menjadi salah satu tokoh sastra paling berpengaruh dalam tradisi sastra Jerman, dengan banyak karyanya yang membahas tentang pencarian makna hidup, hubungan manusia dengan Tuhan, dan perjalanan spiritual. Berikut adalah puisi tersebut dalam bahasa Jerman beserta terjemahannya ke dalam bahasa Indonesia:
Ich lebe mein Leben in wachsenden Ringen
(Bahasa Jerman)
Ich lebe mein Leben in wachsenden Ringen,
die sich über die Dinge ziehn.
Ich werde den letzten vielleicht nicht vollbringen,
aber versuchen will ich ihn.
Ich kreise um Gott, um den uralten Turm,
und ich kreise jahrtausendelang;
und ich weiß noch nicht: bin ich ein Falke,
ein Sturm oder ein großer Gesang.
Aku menjalani hidupku dalam lingkaran-lingkaran yang terus tumbuh
(Bahasa Indonesia)
Aku menjalani hidupku dalam lingkaran-lingkaran yang terus tumbuh,
yang meluas di atas segalanya.
Aku mungkin tidak akan menyelesaikannya,
tetapi aku akan mencobanya.
Aku melingkari Tuhan, kuno, dan megah,
dan aku berputar ribuan tahun,
dan aku tidak tahu: apakah aku elang,
atau badai, atau sebuah lagu besar.
Makna dari puisi ini sangat dalam dan berhubungan dengan perjalanan hidup yang tak pernah selesai. Rilke mengilustrasikan kehidupan sebagai rangkaian lingkaran yang terus meluas, dengan manusia sebagai makhluk yang terus berusaha mencapai kesempurnaan atau pemahaman yang lebih tinggi tentang eksistensi mereka. Meski demikian, ada pengakuan bahwa perjalanan tersebut mungkin tidak akan pernah selesai, tetapi usaha untuk terus bertumbuhlah yang menjadi inti dari makna hidup itu sendiri. Tema ini juga merefleksikan hubungan antara manusia dan Tuhan, serta pencarian akan jati diri di tengah alam semesta yang luas.
Penggunaan puisi ini dalam video musik Jimin seolah mencerminkan perjalanan pribadinya dalam menemukan kebebasan, identitas, dan makna hidup, yang selaras dengan filosofi puisi Rilke. Jimin menunjukkan perjuangan batin dan keinginannya untuk "bebas" dari belenggu emosional melalui musik dan gerakan tubuh yang dramatis. Ini menciptakan perpaduan yang menarik antara sastra klasik dan seni modern, serta menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk menyampaikan makna filosofis dan eksistensial.
Yang membuatnya menarik adalah bagaimana para penggemar K-pop, khususnya ARMY, diperkenalkan pada puisi dari sastra Jerman melalui karya seorang idola Korea Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa seni, terlepas dari medianya, memiliki kemampuan untuk melintasi batas-batas budaya dan waktu. Mengapresiasi puisi Rilke melalui video musik Jimin membuka kesempatan bagi penonton untuk menjelajahi lebih jauh dunia sastra dan filosofi kehidupan, sambil menikmati karya-karya kontemporer yang penuh makna.
Foto: Chat-GPT